MILENIALPOS.com - Kepercayaan masyarakat terhadap media arus utama atau mainstream menjadi tantangan besar di tengah perkembangan teknologi digital. Ketika informasi bisa menyebar hanya dalam hitungan detik melalui media sosial, media konvensional dituntut tidak sekadar cepat, tetapi juga akurat, transparan, dan independen.
Perubahan pola konsumsi informasi membuat masyarakat, khususnya generasi milenial dan Gen Z, semakin banyak mengandalkan platform digital untuk mendapatkan berita. Instagram, TikTok, YouTube, hingga X menjadi ruang baru bagi publik untuk mencari informasi sekaligus membentuk opini.
Namun, kemudahan tersebut menghadirkan persoalan lain. Batas antara informasi faktual, opini, propaganda, dan disinformasi semakin sulit dikenali.
Dalam artikel opini yang diterbitkan Tebuireng Online pada 29 Juni 2025, Munawara, Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam Unhasy Tebuireng Jombang, mengangkat persoalan krisis kepercayaan terhadap media arus utama.
Salah satu faktor yang disoroti adalah perubahan ekosistem digital yang membuat popularitas konten sering kali lebih diutamakan dibandingkan kualitas informasi.
Algoritma media sosial cenderung mendorong konten yang mampu menghasilkan interaksi tinggi. Akibatnya, judul sensasional, informasi kontroversial, dan narasi provokatif lebih mudah mendapatkan perhatian dibandingkan laporan jurnalistik yang mendalam.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi media profesional. Persaingan mendapatkan trafik dan pendapatan iklan terkadang mendorong sebagian media menggunakan judul clickbait atau mengejar kecepatan publikasi tanpa proses verifikasi yang memadai.
Padahal, kepercayaan publik merupakan modal utama sebuah media. Sekali masyarakat merasa disesatkan oleh informasi yang diterbitkan, reputasi media dapat mengalami penurunan.
Media Tidak Cukup Hanya Cepat, Akurasi Tetap Utama
Di tengah persaingan informasi, media arus utama perlu melakukan pembenahan terhadap proses produksi berita.
Kecepatan memang penting dalam dunia digital. Namun, kecepatan tanpa verifikasi justru dapat memperbesar risiko penyebaran informasi keliru.
Media harus kembali memperkuat prinsip dasar jurnalistik, mulai dari pemeriksaan fakta, keberimbangan informasi, independensi redaksi, hingga pemisahan yang jelas antara berita dan opini.
Transparansi juga menjadi kebutuhan penting. Ketika terjadi kesalahan pemberitaan, media seharusnya tidak menghindar, melainkan memberikan koreksi secara terbuka dan bertanggung jawab.
Langkah tersebut dapat membantu masyarakat memahami bahwa media profesional memiliki mekanisme pertanggungjawaban yang berbeda dengan akun penyebar informasi di media sosial.
Generasi Milenial dan Gen Z Punya Peran Penting
Krisis kepercayaan terhadap media bukan hanya tanggung jawab perusahaan pers. Masyarakat sebagai konsumen informasi juga memiliki peran besar dalam membangun ekosistem digital yang sehat.
Generasi milenial dan Gen Z, yang akrab dengan teknologi dan media sosial, perlu memiliki kemampuan literasi digital yang baik.
Tidak semua informasi yang viral dapat dianggap benar. Jumlah tayangan, komentar, dan tanda suka juga bukan ukuran validitas sebuah berita.
Sebelum membagikan informasi, masyarakat perlu memeriksa sumber berita, membaca isi pemberitaan secara utuh, membandingkan informasi dengan media kredibel lainnya, serta memastikan konteks peristiwa yang disampaikan.
Sikap kritis bukan berarti menolak seluruh pemberitaan media. Sebaliknya, masyarakat perlu membangun kebiasaan menguji informasi berdasarkan fakta dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Membangun Kembali Kepercayaan Media
Upaya mengembalikan kepercayaan publik membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Media perlu menjaga integritas jurnalistik, platform digital harus lebih bertanggung jawab terhadap distribusi informasi, sementara pemerintah dan lembaga pengawas perlu memastikan kebebasan pers serta penegakan aturan berjalan secara proporsional.
Di sisi lain, keberadaan media lokal juga perlu diperkuat. Media yang dekat dengan masyarakat memiliki peran penting dalam menyampaikan persoalan daerah, mengangkat suara komunitas, serta menghadirkan informasi yang relevan dengan kebutuhan publik.
Krisis kepercayaan seharusnya menjadi momentum bagi industri media untuk melakukan evaluasi dan transformasi, bukan sekadar mencari cara baru untuk mendapatkan jumlah pembaca.
Pada akhirnya, media yang kuat bukan hanya media dengan jumlah pengikut besar atau trafik tinggi, melainkan media yang mampu menjaga kepercayaan masyarakat.
Di era ketika setiap orang bisa menjadi pembuat dan penyebar informasi, kualitas jurnalistik justru menjadi pembeda. Publik membutuhkan media yang berani mengungkap fakta, terbuka terhadap kritik, dan konsisten menjalankan tanggung jawabnya sebagai salah satu pilar demokrasi.

0 Komentar